Rabu, 06 April 2016

Jatuh di Argentina, Vinales Salahkan Diri Sendiri

Jatuh di Argentina, Vinales Salahkan Diri Sendiri
Pebalap Suzuki Ecstar, Maverick Vinales mengaku kecewa pada dirinya sendiri ketika terjatuh di tikungan ketiga Sirkuit Termas de Rio Hondo dalam sesi latihan bebas kedua MotoGP Argentina, Jumat (1/4) di mana ia menduduki posisi ketiga dengan 1 menit 42,047 detik.

Vinales merupakan satu-satunya pebalap non-Honda yang menduduki posisi lima besar, di belakang Marc Marquez dan Dani Pedrosa, serta mengungguli Jack Miller dan Cal Crutchlow. Saat kecelakaan itu terjadi, juara dunia Moto3 2013 ini mengaku tak terlalu fokus.

"Saya baik-baik saja. Saya sedikit kecewa pada diri sendiri, karena itu kesalahan saya. Saya sedikit melebar dari garis balap dan terjatuh. Semua pebalap yang jatuh, terjatuhnya seperti ini juga. Saya tidak terlalu fokus pada lap itu," ujarnya seperti yang dilansir Crash.net.

Meski begitu, Vinales mengaku tetap merasa nyaman di atas GSX-RR setelah kembali ke lintasan. "Saya harus hati-hati untuk mencatatkan waktu yang lebih cepat. Harusnya saya bisa menduduki posisi kedua. Honda mengalami langkah maju, empat pebalap di lima besar. Tapi Suzuki juga nyaman, hanya saja harus lebih baik," tambahnya.

Vinales pun menjelaskan betapa bahayanya bagi pebalap bila keluar dari garis balap di lintasan yang berdebu. "Jika Anda tidak melaju di garis balap yang baik, maka Anda akan terjatuh. Jadi terkadang lebih baik Anda mengerem lebih awal dan melaju lebih cepat di garis yang tepat, tidak melebar seperti yang terjadi pada saya ketika terjatuh," tutupnya.

Suka Duka Maverick Vinales Gagal Finis di Argentina

Suka Duka Maverick Vinales Gagal Finis di Argentina
Pebalap Suzuki Ecstar, Maverick Vinales mengaku kecewa berat dirinya gagal finis di MotoGP Argentina akhir pekan lalu, setelah terjatuh saat balapan menyisakan tiga lap. Meski begitu, ia juga merasa sangat senang bisa tampil kompetitif sepanjang balapan, dengan nyaris meraih podium.

Vinales berada di posisi keempat nyaris sepanjang balapan, sebelum akhirnya naik ke posisi ketiga, bertarung dengan Valentino Rossi, Andrea Dovizioso dan Andrea Iannone memperebutkan posisi kedua. Sayangnya, Vinales melaju di atas bagian lintasan yang masih basah hingga terjatuh dan gagal finis.

"Saya sangat sedih sekaligus sangat senang. Saya sedih gagal finis, tapi kami bisa berbangga diri. Sepanjang balapan saya bisa bertarung di papan atas, saya juga yakin punya kesempatan menyalip demi posisi kedua. Sayang saya tak bisa menyelesaikannya. Saya mengenai bagian lintasan yang basah, melebar dari garis balap yang ideal," ujarnya dalam rilis resmi tim.

Juara dunia Moto3 2013 inipun mengaku sangat kecewa gagal podium, apalagi dirinya yakin bisa mengalahkan Rossi demi posisi kedua. "Sangat sulit menerima kecelakaan itu, mengingat saya sangat nyaman dan yakin bisa naik podium. Tapi ini juga merupakan bukti bahwa kami telah mengalami progres yang sangat baik dan siap bertarung di posisi terdepan," tambahnya.

Vinales pun bertekad kembali mendapatkan performa yang sama di MotoGP Austin, Texas akhir pekan nanti. "Target saya masih tetap enam besar, tapi Argentina membuktikan kami bisa mengharapkan hasil yang lebih baik. Saya akan mengambil semua kesempatan yang datang. Saya yakin kami bisa kembali mendapatkan peluang serupa di Austin," tutupnya.

Jika Podium Pertama di Austin, Marquez Bakal Juara Dunia?

Jika Podium Pertama di Austin Marquez Bakal Juara Dunia
Berbicara Grand Prix Amerika Serikat tak sah rasanya jika tidak menempatkan nama Marc Marquez. Karena joki Repsol Honda ini mempunyai catatan rekor fantastis selama mengaspal di Sirkuit of the Americas. 
Percaya atau tidak, jika Baby Alien mampu mengamankan podium pertama di seri ketiga MotoGP musim ini, kemungkinan ia bakal keluar sebagai juara dunia 2016. 

Catatan cemerlang Marquez sudah ditunjukkan sejak ia masuk di kelas utama MotoGP pada 2013. Dia bahkan dikenal sebagai raja sirkuit di Negeri Paman Sam lantaran pemilik nomor 93 itu kerap merebut kemenangan di sana. 

Sejauh ini dari enam balapan terakhir di Grand Prix Amerika Serikat maupun Indianapolis, Marquez tak pernah kehilangan momentum untuk mengambil tempat di podium pertama. Selain itu, ada banyak peristiwa penting yang terjadi di sana. Salah satunya adalah Marquez pernah meraih rekor pole position termuda pada balapan di Austin pada 2013 (20 tahun-62 hari), sekaligus mematahkan rekor sebelumnya yang dipegang Freddie Spencer (20 tahun-153 hari) pada 1982. 

Catatan impresif itulah yang harus diwaspadai sirkus MotoGP jelang balapan seri ketiga, akhir pekan nanti. Sebab jika menyelisik rekam jejaknya, ia selalu menandai predikat sebagai juara dunia dengan merebut kemenangan di GP Amerika Serikat maupun Indianapolis.

Berikut rekam jejak Marc Marquez selama mengaspal di Negeri Paman Sam seperti dirangkum SINDOnews dari berbagai sumber, Rabu (6/4/2016): 

1. Marc Marquez hanya satu kali kehilangan gelar juara dunia setelah ia berhasil merebut podium pertama di Austin dan Indianapolis (musim lalu). 

2. Dalam tiga tahun berturut-turut, Marc Marquez selalu berhasil merebut pole position di Austin.

3. Marquez pernah meraih rekor pole position termuda pada balapan di Austin pada 2013 (20 tahun-62 hari), sekaligus mematahkan rekor sebelumnya yang dipegang Freddie Spencer (20 tahun-153 hari) pada 1982. 

4. Kemenangan di Austin menempatkan nama Marc Marquez sebagai pembalap termuda yang mampu back to back podium di kelas utama MotoGP. Mengungguli rekor sebelumnya yang diraih Randy Mamola saat podium di Spanyol dan Perancis pada 1980 di usia 20 tahun 197 hari.

5. Marc Marquez sejauh ini merupakan juara bertahan di GP Amerika Serikat (Austin) dalam tiga tahun berturut-turut. 

6. Kemenangan di Austin merupakan yang ke-20 sepanjang karier Marc Marquez. Jumlah itu sepadan dengan yang dicatat pembalap legendaris Freddie Spencer di kelas 500cc.

7. Tahun lalu Marc Marquez menandai podium ke-31 di usia yang baru menginjak 22 tahun. Jumlah itu setara dengan podium yang dihasilkan Freddie Spencer sepanjang 14 tahun karirnya di dunia balap.

8. Kemenangan di Austin tahun lalu sekaligus memutus rekor Max Biaggi yang mengoleksi 30 podium juara. Saat ini, Marc Marquez merupakan pembalap aktif 'terganas' kelima dalam daftar pembalap MotoGP setelah Valentino Rossi, Dani Pedrosa, Jorge Lorenzo dan Casey Stoner.

Ducati Mulai Retak, Dovizioso Anggap Iannone Sebagai Sumber Bencana

Ducati Mulai Retak Dovizioso Anggap Iannone Sebagai Sumber Bencana
Dua pembalap Ducati, Andrea Dovizioso dan Andrea Iannone mengalami kejadian buruk di Sirkuit Termas de Rio Hondo Argentina, Minggu (3/4/2016). Mereka sama-sama jatuh saat sedang bersaing memperebutkan podium di seri kedua MotoGP.

Kecelakaan tersebut mereka alami saat lomba memasuki putaran terakhir. Kejadian berawal saat Iannone ingin mengejar Dovizioso di lintasan berbelok. Namun sayang, aksinya kurang sempurna sehingga menyentuh bagian belakang motor rekannya tersebut. Setelah itu keduanya terseret keluar lintasan. Namun Dovizioso masih bisa bangkit dan melanjutkan perlombaan meski pada akhirnya finis di urutan 13.

Usai balapan, Dovizioso meluapkan kekecewaannya pada Iannone. Meski rekannya sudah minta maaf, Dovizioso tetap kesal sebab gara-gara Iannone ia jadi gagal merebut podium di GP Argentina.

"Gagal meraih poin merupakan suatu bencana. Saya berpeluang finis di posisi dua, di belakang Marc Marquez," ucap Dovizioso yang dikutip dari laman MotoGP.

"Banyak pembalap kesulitan dengan seri kali ini. Tapi kami bisa mengelola berbagai situasi. Kami cukup kompetitif ketika kualifikasi dan berada di baris kedua saat start merupakan hasil yang luar biasa. Harusnya saya bisa finis sebagai runner up, sebab saya tampil sempurna dan bisa mengungguli Valentino Rossi. Saya bisa mengalahkan dia," jelasnya.

Karena finis di posisi 13, Dovizioso hanya mendapat tambahan tiga poin. Kini ia bertengger di peringkat lima dengan kemepilikan 23 angka. Sementara Iannone belum mengantongi poin sebab ia selalu mengalami kecelakaan dalam dua seri yang sudah digelar pada musim ini.

Marquez Ingin Asapi Rossi Lagi di Austin

Marc Marquez sangat puas bisa menjadi kampiun di MotoGP Argentina akhir pekan lalu. Pembalap asal Spanyol itu sesumbar bakal kembali meraih podium dan mengalahkan pembalap lainnya, termasuk Valentino Rossi pada seri selanjutnya, di Amerika Serikat (AS).

Ya, Marquez dan Rossi kembali bersaing sengit di Sirkuit Autodromo Termas de Rio Hondo. Aksi saling salip terjadi di beberapa tikungan dalam balapan tersebut.

Sayangnya, persaingan Marquez dan Rossi terhenti karena pergantian motor. Marquez pun sukses mengasapi pembalap asal Italia itu dengan jarak yang cukup jauh.

"Itu adalah pertempuran yang baik dan saya hanya mencoba berkonsentrasi pada ritme saya. Kami cukup cepat dan lintasan sedikit berbahaya dengan daerah-daerah yang basah. Ia menyalip saya beberapa kali dan saya menyusulnya," kata Marquez, seperti dilansir Crash usai balapan.

"Seri AS sangat saya senangi dan balapan di sana selalu spesial. Kita lihat saja yang terjadi di sana, yang jelas kami harus bekerja keras sejak hari Jumat," ujarnya menambahkan.

Marquez sejauh ini sudah berhasil mengumpulkan 41 poin. Raihan 25 poin didapat pemuda Spanyol itu setelah menang di GP Argentina. Sisanya didapat sebagai peringkat tiga GP Qatar.

Posisi dua ditempati oleh Valentino Rossi. Pembalap Movistar Yamaha ini terpaut delapan poin dari Marquez. Rossi pada seri terakhir finis di urutan kedua.

"Saya hanya ingin menjadi yang tercepat di setiap sirkuit atau meraih podium. Sehingga saya bisa menjadi juara dunia," ujar Marquez.

Tindakan Iannone Tak Bisa Diterima Dovizioso

SANTIAGO - Pembalap Ducati, Andrea Dovizioso, mengaku kecewa dengan tindakan rekan setimnya, Andrea Iannone. Sebab koleganya tersebut membuat kesempatan timnya kehilangan podium di MotoGP Argentina.
Kedua riders asal Italia tersebut hampir saja meraih podium kedua dan ketiga. Namun, sebuah manuver dari Iannone di tikungan terakhir membuyarkan harapan Dovizioso.
Iannone yang berambisi menyalip Dovizioso dari sisi dalam hingga mengakibatkan keduanya terjatuh. Lantas, Dovi menilai kejadian yang mereka alami di MotoGP tak bisa diterima, karena keduanya sudah dua tahun bersama motor pabrikan asal Bologna, Italia.
“Kehilangan poin dengan cara ini adalah bencana. Kami seharusnya bisa berada di posisi kedua klasemen di belakang Marquez. Ini sangat penting untuk kejuaraan, mendapatkan hasil sebaik mungkin,”kata Dovizioso mmengutip Motorsport, Selasa (5/4/2016).
“Sebagai tim pabrikan, Anda harus memastikan bisa meraih hasil bagus. Kami sudah bekerja keras dua tahun terakhir untuk menciptakan sepeda motor yang bagus. Jadi kehilangan poin seperti ini tidak bisa diterima. Tidak bisa diterima” tuntas pembalap berusia 30 tahun tersebut.

Bos Ducati Kecam Manuver Ceroboh Iannone

SANTIAGO DEL ESTERO – Bos Ducati, Gigi Dall’Igna, mengecam aksi Andre Iannone yang merugikan rekannya sendiri yakni Andrea Dovizioso saat GP Argentina akhir pekan lalu. Dia menyatakan The Crazy Joe –julukan Iannone– memang melaju terlalu cepat.
hal yang menyesakkan, aksi ceroboh Iannone terjadi di lap dan tikungan terakhir Autódromo Termas de Río Hondo. Dia sedang mengejar Dovizioso yang berada di urutan dua. Aksi saling sikut pun tak terelakkan.
Puncaknya terjadi di lap dan tikungan terakhir, ketika Iannone yang berusaha menyalip justru mencium motor Dovizioso. Keduanya pun terjatuh dan dilewati para pembalap lain. Beruntung, Dovizioso masih bisa melanjutkan balapan meskipun finis posisi terbuncit, sementara Iannone retired.
“Apa yang bisa saya katakan. Padahal, itu bisa menjadi hari yang luar biasa buat Ducati karena Chaz Davies di Superbike dan kemenangan di Superstock 1.000. Posisi kedua dan ketiga di MotoGP akan melengkapi semuanya. Sayangnya, itu tidak terjadi,” kata Dall’Igna, seperti dilansir Speedweek, Selasa (5/4/2016).
“Iannone seharusnya tidak melakukan manuver seperti ini di tikungan terakhir. Dia terlalu cepat. Saya tahu seorang pembalap juga ingin menang bagaimanapun caranya, tapi dia juga harus memikirkan Ducati,” jelasnya.