Selasa, 12 April 2016

Gagal Finis di COTA, Rossi: Ini Memalukan!

Gagal Finis di COTA Rossi Ini Memalukan

TEXAS - Kegagalan Valentino Rossi menyentuh finis dalam Grand Prix Amerika Serikat membuat pembalap Movistar Yamaha merasa malu. Masalah kopling yang membuatnya tegelincir di lap ketiga membuatnya jadi tertinggal 33 poin dari Marc Marquez di klasemen pembalap sementara.

Rossi yang merasa yakin sudah menyetel Yamaha YZR-M1 dengan baik sebelum balapan, ketiban sial saat bersaing di Circuit of the Americas, Senin dini hari kemarin. Saat memasuki tikungan kedua lap ketiga, ia tergelincir dan akhirnya urung melanjutkan balapan yang akhirnya dimenangi Marquez.

The Doctor mengaku, masalah pada kopling jadi penyebab dirinya tergelincir. Ia pun merasa malu sebab masalah tersebut sudah ia rasakan sejak Grand Prix Argentina namun gagal diperbaiki.

Ini memalukan sebab di awal balapan saya terganggu kopling dan tergelincir. Saya harus melambat dan coba mengaturnya sehingga sempat kehilangan beberapa posisi. Namun di saat bersamaan, saya sudah merasa baik dengan motor dan sudah bekerja maksimal sepanjang akhir pekan kemarin," ucap Rossi dikutip MCN, Selasa (12/4/2016).

"Saya merasa kopling sudah membaik, tapi saat memasuki tikungan kedua saya merasa motor jadi lebih cepat dan hasilnya demikian. Ini sangat memalukan. Sebab kami kehilangan beberapa poin dalam kejuaraan. Padahal bisa membuat balapan yang positif. Tapi sisi positifnya adalah kami cukup kuat dan sangat cepat sehingga siap untuk balapan berikutnya di Jerez," pungkasnya.

Hasil ini membuat Rossi tertahan di posisi tiga dengan poin 33. Ia tertinggal 12 angka dari rekannya Jorge Lorenzo dan 33 poin dari Marquez yang nyaman di puncak klasemen berkat kemenangan keempatnya di COTA.


Duta Sirkuit COTA Puji Marc Marquez Setinggi Langit

Duta Sirkuit COTA Puji Marc Marquez Setinggi Langit

TEXAS - Mantan juara dunia MotoGP di era 500cc, Kevin Schwantz yang juga Duta Sirkuit COTA menyebut Marc Marquez sebagai pembalap fantastis. Marquez berhasil mempertahankan gelar untuk kali keempat secara beruntun di GP Amerika Serikat. 

Tak hanya menyoroti penampilan Marquez yang memenangkan GP Amerika Serikat dalam empat musim beruntun. Schwantz juga merujuk pada kesuksesan The Baby Alienmemenangkan gelar juara ke-26 sejak kali pertama tampil di MotoGP pada 2013.

"Marc adalah pembalap yang fantastis. Dia memenangkan 26 gelar juara race di usianya yang baru 23 tahun," kata Schwantz, dikutip Motorsport.Untuk musim ini, Marquez telah memenangkan dua gelar juara race dari tiga kali balapan, setelah sebelumnya dia memenangkan balapan di GP Argentina. Marquez gagal memenangkan balapan perdana di GP Qatar, namun dia berhasil naik ke podium ketiga di Sirkuit Losail. 

Saat ini Marquez memimpin klasemen sementara pembalap MotoGP dengan 66 poin. Pesaing terdekat Marquez adalah Jorge Lorenzo dengan koleksi 45 poin.

Sumber : http://sports.sindonews.com/read/1100210/49/duta-sirkuit-cota-puji-marc-marquez-setinggi-langit-1460391299

Senin, 11 April 2016

"The King of Austin" Marquez Masih Menjadi Raja di Austin Texas America


Marc Marquez meraih kemenangan keempatnya secara beruntun di MotoGP Austin setelah dia mendominasi balapan dari awal sampai akhir. Jorge Lorenzo finis kedua pada race ini.


Di Sirkuit Austin, Amerika Serikat, Senin (11/4/2016) dinihari WIB,Marquez sempat kehilangan posisi terdepan yang dia punya sebagai pemilik pole position di awal balapan. Namun dia berhasil merebutnya lagi setelah tikungan pertama. 

Sejak saat itu sampai akhirnya menyentuh garis finis Marquez sama sekali tak terkejar lawan-lawannya. Pebalap Honda asal Spanyol itupun meraih kemenangan keduanya musim ini, setelah dua pekan lalu berjaya di MotoGP Argentina. 

Kemenangan di MotoGP Austin semakin menegaskan dominasi Marquez di sana karena ini adalah kali keempat secara beruntun dia naik podium teratas. Rekor Marquez di Austin dan seluruh seri MotoGP yang digelar di tanah Amerika Serikat masih 100% kemenangan. 

Finis kedua pada balapan ini adalah Jorge Lorenzo. Setelah crash di seri sebelumnya, Lorenzo gagal memberi perlawanan pada Marquez dan kalah jauh catatan waktunya di seri ini.

Meraih podium terakhir adalah rider Ducati, Andrea Iannone. Ini menjadi podium pertama Iannone setelah yang terakhir dia dapat di Australia tahun lalu sekaligius jawaban atas kritik yang banyak dia terima akibat kejadian di Argentina. 

Beberapa pebalap papan atas bernasib nahas di seri ini. Valetino Rossi jatuh saat balapan baru berjalan dua lap, pun begitu dengan Dani Pedrosa. Kemalangan terbesar mendatangi Andrea Dovizioso karena dia kembali gagal finis karena ditabrak pebalap lain. Kali ini Dovi dijatuhkan Pedrosa pada lap keenam.

Hasil balapan ini mengokohkan posisi Marquez di puncak klasemen pebalap dengan poin 66 dari tiga balapan yang sudah dijalani. Lorenzo naik ke posisi dua dengan poin 45 dikumpulkan, dia melewati Rossi dan Pedrosa yang sama-sama gagal menambah poin di seri ini.

Sabtu, 09 April 2016

MotoGP Austin 2016: Kandang Kedua Marquez

Prediksi MotoGP Austin 2016: Kandang Kedua Marquez
Setelah memenangi MotoGP Argentina yang penuh kontroversi akhir pekan lalu, pebalap Repsol Honda, Marc Marquez pun terlecut untuk mempertahankan momentum di MotoGP Austin, Texas yang digelar di Circuit of The Americas (COTA) akhir pekan ini.

RC213V boleh saja masih diragukan konsistensinya, mengingat setiap lintasan akan membuat setiap motor bereaksi berbeda pula akibat ban baru Michelin dan perangkat elektronik (ECU) terbaru. Meski begitu, hal ini tak akan menyulutkan Marquez tampil baik di COTA.

Sejak bergabung dalam kalender balap MotoGP 2013, Marquez langsung perkasa di sirkuit ini. Pada musim debutnya tersebut, pebalap Spanyol ini langsung meraih kemenangan, begitu pula pada tahun 2014 dan 2015. Dominasinya inilah yang membuat COTA disebut-sebut sebagai rumah kedua Marquez.

Statistik gemilang di COTA, ditambah kejayaannya di Argentina akhir pekan lalu sudah pasti akan menjadi modal Marquez untuk kembali menapaki puncak podium hari Minggu (10/4)  nanti. Meski begitu, ia harus waspada pada tenaga besar Desmo16 GP milik Ducati.

Kuda-Kuda Ducati
Besarnya tenaga kuda Desmo16 GP milik Ducati terbukti mampu membantu Andrea Dovizioso dan Andrea Iannone tampil beringas di Qatar dan Argentina, meski berbagai nasib buruk menaungi pabrikan Italia itu. Layout COTA yang bersifat flowing dan hanya punya enam titik pengereman yang dalam, diprediksi akan bersahabat dengan Ducati.

Hal ini sudah dibuktikan oleh Dovizioso di dua tahun terakhir, di mana ia sukses finis ketiga pada musim 2014 dan finis kedua musim lalu. Dengan Desmo16 GP yang pengembangannya sudah jauh lebih maju, ia dan Iannone pun bisa menjadi ancaman terbesar bagi Marquez dan Honda.

Meraih hasil baik juga akan menjadi target utama Dovizioso dan Iannone, yang secara kontroversial bersenggolan di tikungan terakhir Argentina akhir pekan lalu, di mana Iannone gagal finis, dan Dovizioso harus mendorong motornya demi finis ke-13.

Dovizioso sendiri mengaku sangat jengkel harus kehilangan peringkat kedua pada klasemen pebalap akibat insiden ini, sementara Iannone yang dua kali gagal finis secara beruntun musim ini, merasa sangat bersalah dan akan berupaya keras membayarnya akhir pekan ini.

Kapan Giliran Yamaha?
Menjelang MotoGP Austin akhir pekan ini, baik Jorge Lorenzo maupun Valentino Rossi sama-sama mengaku COTA tak bersahabat dengan gaya balap mereka, begitu juga dengan karakter YZR-M1. Tak sekadar kata-kata, hal ini terbukti dari hasil mereka yang belum pernah memenangi balapan di lintasan tersebut.

Prestasi terbaik Yamaha di COTA hanyalah finis ketiga, melalui Lorenzo pada musim 2013 dan Rossi pada 2015. Meski begitu, dengan YZR-M1 yang dianggap sebagai motor terkuat dan terkomplet seantero MotoGP dalam dua tahun terakhir, Yamaha akan berusaha mendapat giliran unjuk gigi akhir pekan ini.

Selain motivasi teknis, baik Lorenzo maupun Rossi punya motivasi pribadi sendiri-sendiri. Lorenzo yang sukses menang di Qatar, justru gagal finis di Argentina. Sebagai sang juara dunia bertahan, pebalap Spanyol ini jelas ingin kembali bangkit. Statistiknya yang tak gemilang di COTA pun akan menjadi pelecut baginya untuk merebut kemenangan.

Rossi yang mendominasi klasemen pebalap sepanjang musim lalu, juga bertekad tampil baik di COTA. Setelah gagal podium di Qatar, dan hanya merasa 'beruntung' finis kedua di Argentina pasca insiden Iannone vs Dovizioso, The Doctor pun punya tugas besar untuk membuktikan potensi sesungguhnya sebagai penghuni podium musim ini.

Dendam Vinales
Pebalap Suzuki Ecstar, Maverick Vinales kedapatan dan mengaku menangis pasca gagal finis di Argentina akhir pekan lalu, yakni gagal finis keduanya musim ini setelah Qatar. Gagal membawa pulang poin, Vinales tentu sangat kecewa, apalagi kini dirinya menjadi sorotan dunia sebagai kandidat pengganti Lorenzo di Yamaha.

Sejak uji coba pramusim, Vinales secara tak langsung dipandang sebagai pebalap nomor satu Suzuki saat ini. Beban menjadi pebalap terbaik pabrikan asal Hamamatsu, Jepang itu pun diemban oleh Top Gun, dan dirinya merasa wajib meraih hasil baik di atas GSX-RR yang masih berusia dua tahun.

Dengan kecepatan dan ritme balap yang menjanjikan di Argentina, Vinales nyaris saja finis kedua dan naik podium sebelum terjatuh saat balapan menyisakan empat lap. Dari sudut pandang teknis, performa inilah yang akan dibawa Vinales menuju COTA, di mana ia terbukti mampu tampil baik di tiga tahun terakhir.

Di kelas Moto3 2013, Vinales sukses finis kedua di belakang Alex Rins, dan meraih kemenangan pada tahun 2014 saat menjalani musim debutnya di Moto2. Tahun lalu pun, ia sukses finis di posisi 10 besar. Kegagalan Qatar dan Argentina, serta statistik gemilang, akan menjadi pelecut utama Vinales dalam membidik podium akhir pekan ini.

Sumber :
http://www.bola.net/otomotif/prediksi-motogp-austin-2016-kandang-kedua-marquez-61f794-3.html

Motor Marc Marquez yang "Misterius"

Pebalap Repsol Honda, Marc Marquez, memenangi balapan GP Argentina di Autodromo Termas de Rio Hondo, Minggu (3/4/2016), dengan keunggulan enam detik lebih dari Valentino Rossi di posisi kedua.

Marquez dan Rossi sempat bersaing ketat sebelum keduanya masuk pit pada akhir lap ke-10 untuk menjalani kewajiban berganti motor.

Setelah berganti motor, Marquez mulai meninggalkan pebalap Movistar Yamaha tersebut. Pada putaran pertama dengan motor kedua, Marquez sudah lebih cepat 2,8 detik.

Marquez seperti melayang. Dari 10 lap yang dia lahap dengan motor kedua, enam di antaranya diselesaikan di bawah 1 menit 41 detik.

Pertanyaan pun segera muncul, mengapa Marquez begitu cepat dengan motor kedua. Faktanya, strategi yang diterapkan Repsol Honda ternyata berdasar pada feeling pebalap 23 tahun tersebut.

"Marc merasa jauh lebih nyaman dengan motor pertama, sepanjang akhir pekan," kata Santi Hernandez, kepala kru Marquez, dalam wawancara dengan Movistar TV yang diberitakanMotorsport.com.

"Karena itulah kami memutuskan dia akan memulai balapan dengan motor kedua. Jadi, pada bagian balapan yang secara teori lebih penting, dia akan memakai motor dengan feeling terbaik," ujar Hernandez menjelaskan.

Strategi menyimpan yang terbaik pada bagian akhir balapan ini berbuah manis. Marquez meraih kemenangan keduanya di Argentina setelah 2014. Tahun lalu, dia gagal finis akibat terjatuh setelah bersenggolan dengan Rossi ketika balapan tersisa dua putaran.

Ketika diminta menggambarkan bagaimana perbedaan feelingMarquez terhadap motor pertama dan kedua, baik pebalap maupun teknisi Repsol Honda tidak bisa memberikan penjelasan.

"Kami harus menganalisis semua data dan mencoba mencari alasannya. Perbedaannya adalah feeling ketika dia melakukan serangan (untuk menyalip) dan menikung," ujar Hernandez.

Setelah lolos ujian dengan nilai terbaik di Argentina, Marquez akan bersaing di Sirkuit Americas, Austin, 8-10 April. Kondisi sirkut di Austin akan sangat berbeda dengan di Argentina.

Salah satu anggota tim Marquez mengatakan bahwa mereka berpotensi mengalami kesulitan terutama di tikungan terakhir dan lintasan lurus utama Sirkuit Americas.

Balapan GP Argentina mewajibkan pebalap melakukan flag-to-flag atau berganti motor di tengah balapan karena alasan keselematan berkaitan dengan ban belakang Michelin.

Pada sesi latihan bebas keempat, Sabtu (2/4/2016), ban belakang Scott Redding (Octo Pramac), mengalami kerusakan ketika melaju cepat.

Dengan pertimbangan tersebut, flag to flag diwajibkan saat balapan. Jumlah putaran balapan pun dikurangi, dari 25 menjadi 20 lap.

Jumat, 08 April 2016

Video Flash Back MotoGP Argentina Penuh Drama , Dovizioso & Ianone Jatuh, Marquez Menang Mutlak.



Pembalap tim Repsol Honda, Marc Marquez, menjadi juara pada balapan MotoGP Argentina, Senin dinihari tadi. Dengan kemenangan itu, Marquez kini memimpin klasemen sementara pembalap.

Marquez yang memulai balapan dari posisi terdepan sempat disalip pembalap tim Movistar Yamaha, Jorge Lorenzo, dan pembalap tim Ducatti, Andrea Dovizioso. Dovizioso sempat memimpin lomba beberapa putaran sebelum Valentino Rossi dan Marquez membalapnya dan memaksanya turun menjadi peringkat ketiga.

Nasib nahas dialami Lorenzo yang terjatuh dari motornya di tikungan pertama saat balapan menyisakan 15 putaran lagi. Persaingan antara Marquez dan Rossi pun terjadi hingga tengah balapan. Pembalap tim Suzuki Ecstar, Maverick Vinales, sempat menyodok ke posisi ketiga menggeser Dovizioso dan Andrea Ianonne.

Pada balapan kali ini para pembalap diharuskan mengganti motor di tengah balapan. Pergantian motor itu terjadi karena adanya masalah pada ban Michelin yang membuat pembalap Scott Redding mengalami kecelakaan pada sesi latihan. Pengawas balapan pun akhirnya memutuskan semua pembalap untuk melakukan pergantian motor di tengah balapan agar ban tak habis dan menyebabkan kecelakaan yang sama.

Setelah para pembalap melakukan pergantian motor, dominasi Marquez terjadi. Secara perlahan dia meninggalkan Rossi dan pembalap lain dengan jarak yang cukup jauh. Di belakangnya, Rossi bertarung dengan Vinales untuk memperebutkan juara kedua. Sayangnya, Vinales mengalami kecelakaan di tikungan pertama pada putaran ke-18.

Rossi sempat melebar saat menikung dan duo Ducatti, Ianonne dan Dovizioso, menyodok ke posisi kedua dan ketiga di akhir-akhir balapan. Namun nasib baik masih menaungi Rossi, kedua pembalap Ducatti itu bersentuhan di tikungan terakhir dan mereka pun terjatuh. Rossi akhirnya berhasil merebut posisi kedua, sementara posisi ketiga ditempati oleh rekan Marquez, Dani Pedrosa.

Marquez dan Rossi Bicara Soal Tabrakan Teknisi di Pit Lane

Marquez dan Rossi Bicara Soal Tabrakan Teknisi di Pit Lane
TEXAS - Di GP Argentina pekan lalu, sebuah tabrakan mengerikan menimpa mekanik Aprilia Racing Team Gresini ketika pembalap Alvaro Bautista hendak berganti motor. Tabrakan itu ditanggapi serius pembalap MotoGP lain. 

Jelang bergulirnya GP Amerika Serikat di Austin akhir pekan ini, pembalap Movistar Yamaha Valentino Rossi dan rider Repsol Honda, Marc Marquez satu suara terkait insiden kecelakaan yang menimpa mekanik Aprilia Racing. Peristiwa bermula ketika Bautista memasuki pit lane dan motornya tergelincir saat direm. 

Mekanik tim yang sedianya mempersiapkan motor Bautista, tak bisa mengindari laju motor yang tergelincir itu. Dia pun terjatuh dan mengalami cedera serius di bagian tangan dan kakinya. 

Bautista sendiri menyebut kecelakaan itu di luar kehendaknya karena motor tergelincir ke arah mekaniknya sendiri. Kepada Crash, pembalap asal Spanyol mengatakan "Tidak ada yang bisa saya lakukan agar tidak menabrak dia," 

Menanggapi insiden tersebut, Marquez menyebut seharusnya Bautista lebih berhati-hati. Karena pada dasarnya, keselamatan merupakan elemen terpenting dalam olahraga balap MotoGP. 

"Mungkin mengurangi kecepatan dapat menjadi pilihan yang baik. Tapi kemudian pengendara akan mengeluh bahwa kita kehilangan terlalu banyak waktu. Jika pada akhirnya itu adalah untuk keselamatan, saya pikir salah satu yang perlu diambil," kata Marquez. 

"Saya melihat video dan saya tidak tahu apakah Bautista mengerem terlalu dalam, atau mungkin di depan kotaknya basah, mungkin dia datang sedikit terlalu cepat. Saya pikir memperlambat kecepatan di pit lane dapat menjadi solusi untuk lebih aman," timpal Rossi.